Aliansi Mela Kita Pertanyakan Dana CSR PT Tiam

Aliansi Mela Kita Pertanyakan Dana CSR PT Tiam
Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Aliansi Mela Kita. (juniwan)

Tapanuli Tengah | Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Aliansi Mela Kita merasa kesal, karena masyarakat tidak pernah menerima bantuan corporate social responsibility (CSR) dari PT Tiam, perusahaan pengelola pabrik es di Desa Mela, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Ridwan Hutagalung, pemuda setempat menjelaskan, sejak PT Tiam berdiri dan beroperasi di Desa Mela pada tahun 1990-an silam, masyarakat tidak pernah menerima bantuan CSR dari PT Tiam, baik bantuan pendidikan, dan sosial kemasyarakatan lainnya.

“Kalau saya tidak salah, cuma bantuan fasilitas transportasi untuk anak muda desa yang ikut bertanding olahraga. Selain itu tidak ada,” kata Ridwan diamini sejumlah pemuda lainnya kepada wartawan, Sabtu (27/3/2021).

Menurut Ridwan, berdasar UU 40/2007, tentang perseroan terbatas (PT), perusahaan memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan atau CSR.

Perusahaan diminta berperan dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat umum.

Kemudian, Pasal 2 PP 47/2012, tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan perseroan terbatas (PT). Perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha di bidang dan/atau yang berkaitan dengan sumber daya alam, mempunyai tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR).

Dijelaskan, PT Tiam menggunakan sumber daya alam di Desa Mela, yaitu air. Tetapi pihak perusahaan tidak pernah berinisiatif menyediakan jaringan distribusi air untuk masyarakat setempat.

“Air itu mereka pakai sendiri. Akibatnya, ketika musim kemarau, warga di sini kesulitan air. Sementara perusahaan jalan terus,” katanya.

Ironisnya, jaringan pipa distribusi air masyarakat sering rusak akibat terlindas roda truk pengangkut es yang bertonase besar milik perusahaan.

Badan jalan menuju lokasi pabrik es itu semula diaspal hotmix oleh pemerintah, tetapi saat ini yang terlihat cuma hamparan material pasir batu (Sirtu). Aspalnya, sudah tidak ada lagi.

“Sejak saya masih anak-anak, jalan itu tak pernah diperbaiki, paling cuma ditempel saja. Datang hujan becek semua, kemudian waktu kemarau, abunya beterbangan,” ujarnya.

Menurut dia, masyarakat dan pemerintah desa sering mengundang perusahaan itu pada rapat-rapat desa, tapi pihak perusahaan hanya mengutus perwakilannya.

“Perwakilannya orang Desa Mela juga, karena memang pekerja di pabrik es itu umumnya warga desa sini,” kata dia.

Warga lainnya, Baho Simatupang menimpali, warga di sekitar pabrik es juga resah bila perusahaan ini beroperasi tengah malam. Karena suara mesinnya bising, dan warga terganggu istirahat.

Manajer PT Tiam, O Sitinjak ketika dikonfirmasi wartawan di lokasi pabrik es tidak dapat menjelaskan. Sang manajer itu memilih diam dan tak berkata apa-apa.

Setelah beberapa saat, dia pun menyarankan kepada wartawan untuk menanyakan perihal CSR tersebut kepada humas perusahaan.

“Hari Senin lah bapak datang ketemu dengan humas. Hari ini dia lagi di luar,” singkat O Sitinjak.

editor: juniwan