Fenomena Pencarian Emas di Pantai Maluku Tengah, Ahli Beberkan Ancaman Bahaya

Fenomena Pencarian Emas di Pantai Maluku Tengah, Ahli Beberkan Ancaman Bahaya
Ilustrasi butiran emas. (internet)

Tapanuli Today | Penemuan emas di Pantai Pohon Batu, Desa Tamilow, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, ternyata memiliki dampak buruk yang harus diantisipasi.

Ancaman bahaya besar dapat terjadi akibat eksploitasi alam yang dilakukan masyarakat sekitar. Apalagi, kegiatan mendulang emas dilakukan tanpa pengetahuan tentang dampak lingkungan.

Pakar lingkungan dari Universitas Pattimura Ambon, Prof Agustinus Kastanya mengatakan, dampak lingkungan yang akan ditimbulkan dari aktivitas pertambangan yang tidak terkontrol, antara lain terjadinya kenaikan muka laut.

Penggalian yang membuat lubang-lubang besar juga dapat menyebabkan abrasi.

“Tentu dampak penggalian di Tamilow itu mau dan tidak mau akan terjadi kenaikan muka laut, air laut naik ada abrasi, serta kerusakan,” ungkap Agustinus seperti dilansir dari kompas.com, Sabtu (3/4/2021).

Apalagi Maluku berbentuk kepulauan kecil, maka risiko kerusakan lingkungan juga semakin besar.

“Kalau mau tanya saya soal itu, sebaiknya jangan dilakukan pertambangan di pulau-pulau kecil, karena daya rusaknya terlalu besar, apalagi dengan adanya perubahan iklim,” ungkapnya.

Bahaya air raksa

Guru Besar Manajemen dan Perencanaan Hutan Universitas Pattimura itu juga menyoroti bahaya penggunakan zat kimia, seperti air raksa yang biasa dipakai untuk mencari emas.

“Barang itu (emas) kalau mau dapat harus ada itu (zat kimia). Mau ada atau tidak ada, tapi kalau orang mau cari jalan pintas itu di bawah. Di mana-mana sudah terjadi di semua wilayah pertambangan,” ungkapnya.

Apalagi karena berada di pantai, dikhawatirkan zat kimia dapat masuk ke laut dan berdampak pada kerusakan biota laut.

“Bukan biota laut saja tapi manusia juga makan ikan di laut jadi semua kena. Kadang-kadang kita tidak mau sadari itu atau tidak mau tahu padahal kita hitung-hitung secara ekonomis tidak menguntungkan juga. Kalau dampaknya ke masyarakat juga untuk apa,” tambahnya.

Dampak lingkungan belum diteliti

Agustinus mengatakan, saat ini warga sudah berbondong-bondong mendulang emas dengan menggali lubang-lubang besar di pesisir pantai di Desa Tamilow.

Padahal sejauh ini belum pernah dilakukan penelitian terkait dampak lingkungan.

“Katakanlah dinas lingkungan hidup dan pertambangan, coba melihat hal itu dengan cepat dan menyiapkan langkah-langkah untuk mengatur pengelolaannya,” katanya.

Dia pun berharap pemerintah menutup lokasi tersebut untuk sementara. Penutupan dilakukan untuk kepentingan penelitian dan pengaturan terkait aktivitas penambangan di pantai tersebut.

“Ada baiknya ditutup dulu, tapi harus dilakukan secara baik-baik, secara persuasif,” kata Agustinus.

Sementara itu, salah satu penjual emas Erfin menjelaskan, setiap hari bisa membeli emas hingga 50 gram dari masyarakat Desa Tamilow setelah heboh penemuan emas di pesisir pantai desa tersebut.

“Kalau rata-rata sehari itu warga yang jual emas ke saya itu 40-50 gram,” kata Erfin.

Menurutnya, setiap hari ada lebih dari 10 warga yang menjual emas hasil mendulang di Pantai Pohon Batu, Desa Tamilow itu.

“Ada yang jual 2 gram ada yang 3 gram, ada juga 5 gram tergantung kebutuhan mereka. Jadi kalau rata-rata bisa sampai 50 gram sehari,” ungkapnya.

Para pembeli itu akan membeli emas dari warga yang mendulang seharga Rp600.000 per gram.

Warga Desa Tamilow, Siti mengungkap, dia telah menjual enam gram emas hasil mendulang di pantai. Hasilnya digunakan untuk membeli makanan pokok dan kebutuhan rumah.

“Saya jual untuk beli beras, perabot dapur, dan untuk biaya sehari-hari,” ujarnya.

Source: kompas.com