Jangan Cuma Manfaatkan SDA, PT Tiam Harus Sadar Kewajiban CSR

Jangan Cuma Manfaatkan SDA, PT Tiam Harus Sadar Kewajiban CSR
Jan Hendrik Simanjuntak (juniwan)

Medanbisnisdaily.com-Tapanuli Tengah. Tanggung jawab sosial dan lingkungan atau corporate social responsibilitiy (CSR) PT Tiam, pengelola pabrik es di Desa Mela, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, kini menjadi sorotan.

Ketua Pergerakan Indonesia Tapanuli Tengah (PITA), Jan Hendrik Simanjuntak juga mempertanyakan keberadaan PT Tiam yang tidak pernah menyalurkan dana CSR-nya kepada masyarakat sekitar pabrik.

Sebagai perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam (SDA) Desa Mela, PT Tiam punya tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk mendukung pertumbuhan dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui gelontoran dana CSR.

“Perusahaan tidak boleh abai dalam penyaluran CSR. Perusahaan wajib mengeluarkan hak masyarakat lewat CSR-nya yang harus dilakukan secara transparan dan akuntabel,” kata aktivis pemuda itu kepada wartawan, Senin (29/3/2021).

Perusahaan harus sadar diri, bahwa yang mereka kelola itu SDA Desa Mela, perusahaan jangan hanya tahu ambil untung, tetapi mengabaikan kewajiban untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut dia, kewajiban perusahaan untuk penyaluran CSR sudah diatur dengan jelas, regulasinya pun sudah ada yaitu UU 40/2007, tentang perseroan terbatas (PT). Bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan atau CSR.

“Tidak ada toleransi bagi perusahaan yang abai menyalurkan CSR-nya. Tentu saja hal itu merupakan tindakan pelanggaran. Makanya jangan anggap enteng, CSR itu wajib disalurkan,” kata Jan Hendrik.

Ia pun mengapresiasi sekumpulan pemuda yang mengatasnamakan Aliansi Mela Kita yang mempertanyakan penyaluran CSR PT Tiam.

“Wajar jika masyarakat mempertanyakan dana CSR ke pihak perusahaan, karena itu adalah hak dan untuk kepentingan masyarakat juga,” sebutnya.

Sebelumnya, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Aliansi Mela Kita merasa kesal, karena masyarakat tidak pernah menerima bantuan CSR dari PT Tiam.

PT Tiam sudah berdiri dan beroperasi di Desa Mela pada tahun 1990-an silam, tetapi masyarakat tidak pernah menerima bantuan CSR dari PT Tiam, baik bantuan pendidikan, dan sosial kemasyarakatan lainnya.

“Kalau saya tidak salah, cuma bantuan fasilitas transportasi untuk anak muda desa yang ikut bertanding olahraga. Selain itu tidak ada,” kata Ridwan diamini sejumlah pemuda lainnya kepada wartawan, Sabtu (27/3/2021).

Dijelaskan, PT Tiam menggunakan sumber daya alam di Desa Mela, yaitu air. Tetapi pihak perusahaan tidak pernah berinisiatif menyediakan jaringan distribusi air untuk masyarakat setempat.

“Air itu mereka pakai sendiri. Akibatnya, ketika musim kemarau, warga di sini kesulitan air. Sementara perusahaan jalan terus,” katanya.

Manajer PT Tiam, O Sitinjak ketika dikonfirmasi wartawan di lokasi pabrik es tidak dapat menjelaskan. Sang manajer itu memilih diam dan tak berkata apa-apa.

Setelah beberapa saat, dia pun menyarankan kepada wartawan untuk menanyakan perihal CSR tersebut kepada humas perusahaan.

“Hari Senin lah bapak datang ketemu dengan humas. Hari ini dia lagi di luar,” kata O Sitinjak.

editor: juniwan